MENU TUTUP

Obituari: Pastor Yulianus Mote, Hening ditengah Bising

Selasa, 06 Agustus 2019 | 13:09 WIB / Admin
Obituari: Pastor Yulianus Mote, Hening ditengah Bising Pastor Yul Motte /Istimewa

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

“Luka dan bisa kau bawa lari.
Hingga hilang pedih peri.” 
(AKU, Chairil Anwar) 
Maret 1943. 

DIA adalah hening ditengah bising. Seperti sajak Chairil Anwar: “Ia membawa luka hingga hilang pedih perih.” Percakapan diantara kami, hampir tak terdengar nama Chairil Anwar.

Saya memilih syair Chairil Anwar hanya untuk mengenangnya. Seorang pria dengan senyum paling sederhana yang pernah saya jumpai.
Ia selalu memanggil saya dengan panggilan ade. Jika tenggelam dalam suasana penuh semangat, riang gembira yang panjang, ia lalu memanggil saya kawan. Sebuah keganjilan yang menggembirakan.

“Apostolicam Actuasitatem (AA)”, sering kali ia ucapkan dalam pertemuan bersama tokoh kerawam Katolik, dimana dan kapan saja. Istilah ini mulai akrab dengan saya ketika sering bersama-sama dengannya hampir disetiap pertemuan.

Lebih dari seorang Pastor, ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Jayapura. Posisi ini membuat dirinya begitu dekat dengan dinamika kerawam. Kutipan-kutipan terhadap isi  Apostolicam Actuasitatem adalah nada dasar yang ia pakai untuk memimpin komisi.

Dalam karyanya sebagai seorang Ketua Komisi, ia selalu bertolak dari kerangka dasar pemikiran yang tertuang dalam dokumen ini. Dia adalah pembawa visi Konsili Vatikan II yang mendorong kerawam untuk terlibat dalam Gereja dewasa ini.

Hampir dua atau satu tahun yang lalu, dipenghujung waktunya sebagai Ketua Komisi, ia selalu berkata, “Ade, kalau saya masih kuat dan sehat, kita jalan terus. Kita jalan saja.” Pernyataan ini adalah ungkapan totalitas dalam berkarya. Ia seorang pekerja keras, penuh keringat di ladang Tuhan.

Kita mungkin pernah mendengar universitas katolik. Salah satu ide paling revolusioner yang lahir dari konsolidasi awal kerawam katolik (ISKA dan ICAKAP). Sayang, sampai dengan kepergiannya Universitas impiannya belum terwujud. Walaupun demikian, ia telah memberi catatan kaki untuk generasi setelahnya.

Ketika dinamika politik di daerah memanas ia tampil dengan politik moral khas hirarki Gereja Katolik, lalu mengirim seruan pilkada damai.
Juga, MUKA (Musyawarah Umat Katolik), ini juga pertemuan yang turut digagas oleh dirinya bersama ICAKAP untuk memilih Anggota Majelis Rakyat Papua MRP), dari lima keuskupan di Papua.

Dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu. Ia pun mengajarkan kita sesuatu yang lebih kontemplatif.

Jika kepergiaan mengajarkan sesuatu kepada kita, maka kepergian Pastor Yul Motte mengajarkan kita: ‘Hening ditengah kebisingan’.

Alissa Wahid (Anak Gusdur), pernah menulis dengan judul ‘Pakar’ di Kolom Udar Rasa, Kompas 7 Juli 2019 tentang Gus Nadirsyah Hosen, dosen Indonesia yang mengajar di Monash University, Australia. Gus Nadir aktif melawan pandangan radikal di sosial media.

Ia menulis sangat bagus mengenai ‘bias kognitif Efek Dunning-Kruger’. “David Dunning dan Justin Kruger menunjukan kecenderungan individu untuk menilai diri lebih tinggi atau lebih rendah dari kompetensinya.”

“…Seseorang kadang merasa lebih menguasai sebuah topik, dan menilai dirinya lebih tinggi dari kapasitas obyektifnya.” Dengan perasaan seperti itu seseorang akhirnya merasa percaya diri, lalu merasa lebih tahu dan bahkan merasa menjadi pakar. Merasa seperti dokter yang kemudian dengan mudah mendiagnosis penyebab sebuah kematian. Bahkan sebagian merasa seperti Tuhan: memahami misteri kematian.

Akhir-akhir ini bias kognitif Efek Dunning-Kruger begitu ramai mengisi ruang-ruang sosial media kita. Jika tak memiliki dasar berpikir yang kuat, banyak orang akhirnya menyantapnya secara ramai-ramai.

Rasanya sedih sekali. Fenemona ini begitu ramai akhir-akhir ini. Bahkan dalam suasana berkabung sekalipun.

Pastor Yul dan juga rohaniwan kebanyakan yang telah pergi (meninggal) memiliki kemampuan dan tradisi berpikir yang baik. Mereka bukanlah penikmat bias kognitif. 

Mereka tidak hidup dengan cara pandang kita, itulah yang membedakan kita dengan mereka. Hanya kitalah yang merasa mereka seperti kita, menerima dan menikmati bias kognitif dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat jalan Pastor Yul. Terima kasih atas persahabatan kita selama ini. Setiap membaca isi Apostolicam Actuasitatem saya selalu teringat kesederhanaan senyummu dan aroma keringatmu di Ladang Tuhan.


BACA JUGA

TERKINI
Lecehkan Tugas Wartawan

Permohonan Maaf Pengurus GMNI : Kami Saling Membutuhkan

13 Menit yang lalu

Harhubnas 2019 di Papua Barat, Jadi Momentum Pelayanan Kepada Masyarakat

11 Jam yang lalu

Pasangan PADI Resmi Daftarkan Diri ke Partai Gerindra

11 Jam yang lalu

Sukses Tangkal Berita Hoax Melalui Medsos, Tujuh Personil Polres Jayapura Terima Reward

11 Jam yang lalu

Peringatan Harhubnas 2019, Menhub RI Ajak Satukan Tekad Tingkat Pelayanan

12 Jam yang lalu
Kontak Informasi wartaplus.com
Redaksi: wartaplus.media[at]gmail.com